Langsung ke konten utama

Tempat Duduk Kita Nanti - Bagian kesatu yang bukan pertama

Tempat Duduk Kita Nanti : Jagatku hanya bisa dilihat oleh orang yang bertekad untuk bahagia


Sudah tepat satu bulan aku tidak berjumpa sapa dengan Senjanu. Artinya sudah sebulan aku tidak menerima kesedihannya.

Aku harap anak itu sedang tidak kenapa-napa di dunianya, kuharap dia tidak melupakan aku meski sedang tidak bersedih. Bukankah terlalu egois jika meminta waktu dan cerita bahagianya juga. Aku sudah merasa cukup adil dengan kehadiran dan kesedihannya. Kuharap dirinya baik-baik saja. Hampa.

Ternyata ada satu ruang kosong dalam hatiku ketika anak itu tidak ada. Jiwaku yang terbiasa tidak punya teman, kini berteriak lantang meminta kehadirannya. Indra penciumku yang selalu terhibur oleh aroma makanan manis, kini secara arogan meminta aroma unik milik anak itu yang wanginya mirip seperti kopi Arabika dari Flores. Aku akan berteman lebih dekat dengan anak itu ketika dia mengunjungiku kembali. Harus.

Kembali pada hari pertama aku bertemu dengan anak itu, anak yang baru aku ketahui namanya setelah pertemuan kami yang ketiga. Anak misterius yang terjebak di Jagatku. Sepanjang sejarah, itu yang paling menakutkan. Aroma tubuh itu menyesakkan seluruh penjuru Jagat. Aroma yang tidak pernah tercatat dalam kamus Jagatku. Pada hari itu, anak itu menulis hikayat yang tidak pernah ada sebelumnya - Seperti, apakah kau pernah membayangkan akan ada hari di mana siaran perkiraan cuaca melewatkan berita tentang badai besar yang pasti akan mengguncang seluruh kota. Badai mengerikan yang terlalu besar hanya untuk berlindung di rumah sederhana. Ya, badai itu Senjanu. Senjanu dan kesedihannya.

Semua orang berlindung di rumah masing-masing ketika aroma merah itu menyeruak. Tidak ada yang bisa keluar dan menemui anak itu. Terlalu racun dan terlalu kasihan. Lalu jika kau tanya akhirnya bagaimana? Pada akhirnya, setelah aroma menyesakkan itu sedikit memudar dan tubuh itu mulai jatuh, kami menyadari dan mulai kembali percaya pada satu legenda yang sepenuhnya tidak kami yakini sebelum anak itu sampai di Jagat ini. Ya, hanya dengan aromanya saja kami tahu bahwa ia merupakan anak istimewa yang ada dalam legenda.

Rupanya anak dalam legenda benar-benar sungguhan. Namun, bagaimana bisa ia datang dengan wujud anak usia 13 tahun. Anak kecil dengan amarah yang tidak lagi bisa dia kendalikan itu mengguncang langit sore di Jagat kami. Syukurlah hanya separuh tempat dari Jagat ini yang dapat anak itu rusak, mungkin hati kecilnya sudah terlalu luluh lantak untuk bisa menghancurkan sepenuhnya Jagat kami. Tentu saja bapakku sebagai kamitua Jagat diberi amanah untuk menyayangi anak itu. Kau pasti bertanya-tanya … mengapa badai yang datang menghancurkan kota, justru mendapat sambutan dan imbalan berupa kasih sayang. Itulah istimewanya Jagat kami. Mantel kesedihan, kemarahan, dan hal menyakitkan lainnya harus kaucopot selangkah saja dirimu masuk ke Jagat ini, juga berlaku sebaliknya. Itulah peraturannya.

Semenjak hari pertama aku dilahirkan, aku sudah bertugas untuk bahagia. Begitu juga dengan semua rakyat di Jagat ini. Menurut kepercayaan kami, bahagia bisa berperan menjadi dewa panjang umur. Itulah mengapa para orangtua yang ada di Jagat kami bisa hidup sampai 100 tahun lamanya. Semua bukan omong kosong.

Hanya saja, tidak semua orang bisa mendatangi-melihat-menyentuh Jagat ini. Kau akan sampai di Jagat ini jika membawa satu tekad. Isi dari tekad itu adalah bahagia. Selama kau ingin bahagia dan sekecil apapun harapan itu, kau bisa melihat aku di Jagat ini.

Senjanu merupakan salah satunya. Dalam amarahnya yang membabi buta pada sore itu, tersirat setitik keinginannya untuk bahagia. Ia menginginkan bahagia dan berencana untuk berbahagia di dunianya. Tekad membawa dirinya sampai ke Jagat ini dan bertemu aku. Takdir pertama yang membawaku pada petualangan membuat Senjanu bahagia. Tentu saja, ini kali pertama aku tidak lagi hanya sekadar ikut bapak atau jiran dalam membantu. Senjanu merupakan manusia pertama yang Jagat ini percayakan padaku.

Malam di hari yang sama setelah kehadiran Senjanu, akhirnya aku diperbolehkan meminum satu gelas penuh hati seorang manusia. Semenjak aku meminum hati anak itu, semua yang ia rasakan bisa dengan mudah aku resapi. Kesakitan, kebahagiaan, kedongkolan, dan setiap inci amarahnya. Tugasku adalah membawa Senjanu yang tersesat untuk datang ke Jagat ini. Apakah Senjanu dapat merasakan yang aku rasakan, jawabannya tentu tidak. Hanya penghuni Jagat ini yang mampu menampung semua bentuk perasaan yang manusia simpan dalam hatinya.

Seperti saat ini, aku bisa merasakan Senjanu sedang baik-baik saja di dunianya. Meski aku tidak dapat merasakan kupu-kupu kebahagiaan dalam dirinya, tetapi aku tahu anak itu berusaha untuk mengikuti beberapa saran yang bapak beri padanya pada pertemuan kedua setelah kejadian badai lalu. Aroma yang dimiliki Senjanu ketika baik-baik saja membuat damai hatiku. Gardenia, itu aroma bunga Gardenia.

    
            

Bandung, 24/07/2023. || dipeluk 26°C. || ditemani lagu Because we loved - Choi Jung-hoon, Kang Min-kyung.


Wattpad: ibuk.bebek


            

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tempat Duduk Kita Nanti - Bagian Kelima dari satu sampai empat yang hilang

Tempat Duduk Kita Nanti : Kita hanya perlu punya satu hobi yang sama Dalam kamus kehidupanku, memiliki hobi dengan teman hidup adalah perlu. Lalu ketika hobi yang kusayang berlainan arah denganku, maka aku menyerah. Kemudian, pernyataanku barusan berbalik menjadi pertanyaan yang menuntut segera terjawab.  “Ibu bapakmu saja tidak punya hobi yang sama dan mereka bersama sampai sekarang”  Sebanyak lilin yang sudah aku tiup, selama itu juga aku memakan masakan yang dihidangkan keduanya. Asin-manis-pahit-panas-pedas. Jika hobi tidak sepenting itu, mengapa aku muak dengan pertengkaran yang tidak sekali dua tiga kali ini terjadi. Jika itu hanya sekadar perbedaan hobi, kenapa semuanya runyam ketika bertolak belakang.  “Mengalah tentang hobi bukan sesuatu hal mudah”  Itu ibu yang bilang. Semuanya baik-baik saja sampai keadaan nyaris begitu hancur ketika satu waktu hobi keduanya berlainan. Menyeramkan. Aku tidak suka melihat dan mendengar keributan. Malam itu semua orang menan...

Tempat Duduk Kita Nanti - Bagian keenam setelah lima lainnya

Tempat Duduk Kita Nanti : Keluarga yang Senjanu miliki serupa bunga Senduro . Sekali-dua-tiga-empat dan lebih kali, aku dapat merasakan anak itu tengah berada tepat menggantung di ujung jurang dengan belati yang menyelamatkannya. Itu pasti menyakitkan, tapi aku tahu … dia masih ingin hidup. Aku bisa merasakan anak itu sedang tidak sadarkan diri, tapi suara itu masih menggema, semakin keras dan tak tertahan luapannya. Ucapannya bukan untuk menusuk hatiku, tapi sakit sekali saat suara itu berasal dari seseorang yang anak itu kenal semenjak tawa-tangis pertamanya. Kata-kata seringkali menjelma menjadi sosok paling menyeramkan mengalahkan hewan buas ataupun sosok terlihat lainnya. Lukanya tersembunyi dan tidak ada obat yang dapat menyembuhkan luka yang tidak bisa disentuh. Melihat anak itu sudah andal dalam menggantung pada jurang dan melihat bagaimana dirinya mengikatkan tanganya pada belati tersebut. Apakah anak itu sudah terbiasa? Entah sudah berapa banyak kesempatan menyerah yang anak ...

Tempat Duduk Kita Nanti : Jatuh hati ada mimpi buruknya juga

  Tempat Duduk Kita Nanti : Jatuh hati ada mimpi buruknya juga           Perasaan yang anak itu miliki kali ini terasa sedikit manis dan malu-malu. Apakah Senjanu sedang jatuh cinta? Apakah itu artinya aku akan mendengarkan topik yang berbeda dari anak itu? Mengapa Senjanu cepat sekali menemukan perasaan yang ini . Ah, mungkin sebaiknya aku bersiap dari yang terburuk, patah hatinya. Manusia dapat merasakan jatuh cinta dan mau bagaimanapun Senjanu adalah salah-satunya. Selama hidup, aku tidak pernah jatuh cinta. Bagiku, kasih sayang bapak sudah cukup mengisi apa-apa yang kurang dalam diriku. Teman-temanku berkata bahwa jatuh cinta itu seru. Mereka melupakan satu fakta penting, jatuh cinta ada mimpi buruknya juga.  Tahun waktu itu, Senjanu berusia 14 tahun. Menurutku, sudah sedikit cukup dalam memberi dan menerima perasaan lebih terhadap yang ia sayang. Tentu saja, pada tahun yang sama, aku memulai petualangan baru, yakni mencari jawaban tentang apa...