Dalam kamus kehidupanku, memiliki hobi dengan teman hidup adalah perlu. Lalu ketika hobi yang kusayang berlainan arah denganku, maka aku menyerah. Kemudian, pernyataanku barusan berbalik menjadi pertanyaan yang menuntut segera terjawab. “Ibu bapakmu saja tidak punya hobi yang sama dan mereka bersama sampai sekarang” Sebanyak lilin yang sudah aku tiup, selama itu juga aku memakan masakan yang dihidangkan keduanya. Asin-manis-pahit-panas-pedas.
Jika hobi tidak sepenting itu, mengapa aku muak dengan pertengkaran yang tidak sekali dua tiga kali ini terjadi. Jika itu hanya sekadar perbedaan hobi, kenapa semuanya runyam ketika bertolak belakang. “Mengalah tentang hobi bukan sesuatu hal mudah” Itu ibu yang bilang.
Semuanya baik-baik saja sampai keadaan nyaris begitu hancur ketika satu waktu hobi keduanya berlainan. Menyeramkan. Aku tidak suka melihat dan mendengar keributan. Malam itu semua orang menangis, tak terkecuali si anak pertama.
Aku tinggal di atap rumah yang keduanya bangun selama berpuluh tahun lamanya. Sejauh itu juga aku tahu apa-apa saja yang bisa membuat keduanya saling terdiam membisu. Aku sudah tidak heran tentang “mengapa keduanya selalu ribut pada hal sama” dan tidak lagi bertanya-tanya pada “hal apa yang kali ini menjadi permasalahan”.
Sebab, Ini bukan tentang mengalah pada yang tersayang hanya untuk sebuah hobi yang berbeda. Siapa yang tidak marah jika larangan itu terucap dari orang yang mengenal dirimu tidak lebih dari dirimu sendiri. Siapa yang bisa mengalah untuk meninggalkan apa yang kausukai. Dari keduanya mungkin tidak pernah memberi tahu bahwa pada satu waktu terdahulu, hal favorit tersebut pernah menyelamatkan hidup salah satunya.
Kenyataan paling benar yang selaras dengan tulisan “hanya sekadar hobi” ini, bahwa saling mengerti hanya omong kosong.
Ceritanya berakhir pada penggalan terakhir. Aroma tubuhnya kembali memudar tidak semenusuk beberapa menit yang lalu. Aromanya tidak membuatku pening, justru aku senang dengan aroma itu. Aroma Anyelir kuning. Benar, ia sedang jujur. Senjanu sedang jujur dengan keinginannya itu.
“Lalu …” — — “lalu hobimu itu apa, Nu?” wajah berpikirnya sangat menggemaskan. Namun, aku tahu Janu, ia bahkan tidak akan memberitahu hal sedetail itu pada siapapun. Benar saja, dia tertawa lemah dan menggeleng.
“Hobiku duduk di sini dan mendengarkan seluruh hidupmu, padaku.” lagi dan lagi dia hanya tertawa, apa yang lucu dari perkataanku barusan. Hei tuan, aku sedang jujur dengan hobiku.
Setelah tawanya pergi. Ia meringis mendengar ucapanku.
---
Bandung, 03/07/2023. || dipeluk 22°C.
Wattpad : ibuk.bebek
%20-%20%EB%84%A4%EA%B0%80%20%EB%93%A3%EA%B8%B0%EB%A5%BC(Hope%20it%20gets%20to%20you).png)
Komentar
Posting Komentar