Langsung ke konten utama

Tempat Duduk Kita Nanti - Bagian Kelima dari satu sampai empat yang hilang

Tempat Duduk Kita Nanti : Kita hanya perlu punya satu hobi yang sama


Dalam kamus kehidupanku, memiliki hobi dengan teman hidup adalah perlu. Lalu ketika hobi yang kusayang berlainan arah denganku, maka aku menyerah. Kemudian, pernyataanku barusan berbalik menjadi pertanyaan yang menuntut segera terjawab. “Ibu bapakmu saja tidak punya hobi yang sama dan mereka bersama sampai sekarang” Sebanyak lilin yang sudah aku tiup, selama itu juga aku memakan masakan yang dihidangkan keduanya. Asin-manis-pahit-panas-pedas.

Jika hobi tidak sepenting itu, mengapa aku muak dengan pertengkaran yang tidak sekali dua tiga kali ini terjadi. Jika itu hanya sekadar perbedaan hobi, kenapa semuanya runyam ketika bertolak belakang. “Mengalah tentang hobi bukan sesuatu hal mudah” Itu ibu yang bilang.

Semuanya baik-baik saja sampai keadaan nyaris begitu hancur ketika satu waktu hobi keduanya berlainan. Menyeramkan. Aku tidak suka melihat dan mendengar keributan. Malam itu semua orang menangis, tak terkecuali si anak pertama.

Aku tinggal di atap rumah yang keduanya bangun selama berpuluh tahun lamanya. Sejauh itu juga aku tahu apa-apa saja yang bisa membuat keduanya saling terdiam membisu. Aku sudah tidak heran tentang “mengapa keduanya selalu ribut pada hal sama” dan tidak lagi bertanya-tanya pada “hal apa yang kali ini menjadi permasalahan”.

Sebab, Ini bukan tentang mengalah pada yang tersayang hanya untuk sebuah hobi yang berbeda. Siapa yang tidak marah jika larangan itu terucap dari orang yang mengenal dirimu tidak lebih dari dirimu sendiri. Siapa yang bisa mengalah untuk meninggalkan apa yang kausukai. Dari keduanya mungkin tidak pernah memberi tahu bahwa pada satu waktu terdahulu, hal favorit tersebut pernah menyelamatkan hidup salah satunya.

Kenyataan paling benar yang selaras dengan tulisan “hanya sekadar hobi” ini, bahwa saling mengerti hanya omong kosong.

Ceritanya berakhir pada penggalan terakhir. Aroma tubuhnya kembali memudar tidak semenusuk beberapa menit yang lalu. Aromanya tidak membuatku pening, justru aku senang dengan aroma itu. Aroma Anyelir kuning. Benar, ia sedang jujur. Senjanu sedang jujur dengan keinginannya itu.

“Lalu …” — — “lalu hobimu itu apa, Nu?” wajah berpikirnya sangat menggemaskan. Namun, aku tahu Janu, ia bahkan tidak akan memberitahu hal sedetail itu pada siapapun. Benar saja, dia tertawa lemah dan menggeleng.

“Hobiku duduk di sini dan mendengarkan seluruh hidupmu, padaku.” lagi dan lagi dia hanya tertawa, apa yang lucu dari perkataanku barusan. Hei tuan, aku sedang jujur dengan hobiku.

Setelah tawanya pergi. Ia meringis mendengar ucapanku.


---


Bandung, 03/07/2023. || dipeluk 22°C.


Wattpad : ibuk.bebek

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tempat Duduk Kita Nanti - Bagian keenam setelah lima lainnya

Tempat Duduk Kita Nanti : Keluarga yang Senjanu miliki serupa bunga Senduro . Sekali-dua-tiga-empat dan lebih kali, aku dapat merasakan anak itu tengah berada tepat menggantung di ujung jurang dengan belati yang menyelamatkannya. Itu pasti menyakitkan, tapi aku tahu … dia masih ingin hidup. Aku bisa merasakan anak itu sedang tidak sadarkan diri, tapi suara itu masih menggema, semakin keras dan tak tertahan luapannya. Ucapannya bukan untuk menusuk hatiku, tapi sakit sekali saat suara itu berasal dari seseorang yang anak itu kenal semenjak tawa-tangis pertamanya. Kata-kata seringkali menjelma menjadi sosok paling menyeramkan mengalahkan hewan buas ataupun sosok terlihat lainnya. Lukanya tersembunyi dan tidak ada obat yang dapat menyembuhkan luka yang tidak bisa disentuh. Melihat anak itu sudah andal dalam menggantung pada jurang dan melihat bagaimana dirinya mengikatkan tanganya pada belati tersebut. Apakah anak itu sudah terbiasa? Entah sudah berapa banyak kesempatan menyerah yang anak ...

Tempat Duduk Kita Nanti : Jatuh hati ada mimpi buruknya juga

  Tempat Duduk Kita Nanti : Jatuh hati ada mimpi buruknya juga           Perasaan yang anak itu miliki kali ini terasa sedikit manis dan malu-malu. Apakah Senjanu sedang jatuh cinta? Apakah itu artinya aku akan mendengarkan topik yang berbeda dari anak itu? Mengapa Senjanu cepat sekali menemukan perasaan yang ini . Ah, mungkin sebaiknya aku bersiap dari yang terburuk, patah hatinya. Manusia dapat merasakan jatuh cinta dan mau bagaimanapun Senjanu adalah salah-satunya. Selama hidup, aku tidak pernah jatuh cinta. Bagiku, kasih sayang bapak sudah cukup mengisi apa-apa yang kurang dalam diriku. Teman-temanku berkata bahwa jatuh cinta itu seru. Mereka melupakan satu fakta penting, jatuh cinta ada mimpi buruknya juga.  Tahun waktu itu, Senjanu berusia 14 tahun. Menurutku, sudah sedikit cukup dalam memberi dan menerima perasaan lebih terhadap yang ia sayang. Tentu saja, pada tahun yang sama, aku memulai petualangan baru, yakni mencari jawaban tentang apa...