Sekali-dua-tiga-empat dan lebih kali, aku dapat merasakan anak itu tengah berada tepat menggantung di ujung jurang dengan belati yang menyelamatkannya. Itu pasti menyakitkan, tapi aku tahu … dia masih ingin hidup. Aku bisa merasakan anak itu sedang tidak sadarkan diri, tapi suara itu masih menggema, semakin keras dan tak tertahan luapannya. Ucapannya bukan untuk menusuk hatiku, tapi sakit sekali saat suara itu berasal dari seseorang yang anak itu kenal semenjak tawa-tangis pertamanya.
Kata-kata seringkali menjelma menjadi sosok paling menyeramkan mengalahkan hewan buas ataupun sosok terlihat lainnya. Lukanya tersembunyi dan tidak ada obat yang dapat menyembuhkan luka yang tidak bisa disentuh.
Melihat anak itu sudah andal dalam menggantung pada jurang dan melihat bagaimana dirinya mengikatkan tanganya pada belati tersebut. Apakah anak itu sudah terbiasa? Entah sudah berapa banyak kesempatan menyerah yang anak itu abaikan dan tetap memilih bertahan. Lalu, sampai kapan hal itu akan selesai. Kuharap akhirnya tidak berakhir di dirinya. Aku selalu berdoa tentang keselamatan dan kebahagiaannya. Meskipun anak itu selalu menolak, setidaknya dia tahu ada aku yang menginginkan dirinya tetap ada di Dunia. Meskipun akhirnya dirinya tidak selamat, - ah, aku hanya tidak ingin membayangkan tinggal di jagat raya yang tidak ada "anak itu".
"Lalu apakah dia tahu bahwa rumah dengan isi energi seperti itu membuat penghuninya ingin terus minggat dari tempat berteduh yang paling aman 'katanya' itu." tanyaku di sebelah anak itu. Namanya Senjanu. Nama yang indah untuk dunianya yang bedebah. Nama dengan arti yang cantik untuk sebuah hidup yang terlalu kasihan.
Senjanu menggeleng "aku juga tidak tahu" - "sejujurnya aku tidak punya tempat berteduh lain selain di sini dan bangunan itu." lanjutnya. Aku mengangguk "ya, di sini saja dulu, rumahku juga sedang rumit"
"Jadi kali ini cerita mana yang ingin kamu dengarkan padaku?" Pantai saat siang indah juga, meskipun tidak seindah kala sore hari. Senja, itu alasannya.
Aroma tubuhnya berubah menjadi aroma kesedihan dengan sedikit marah yang tercekat. Entah sudah kesedihan yang keberapa kali, tapi aku ingin selalu mendengarkan itu. Bukan aku suka, aku hanya ingin dia tahu … aku selalu ada dipihak dirinya.
Ia mengangguk dan memulai ceritanya.
Suatu hari dia menolak kehadiran orang tua dari yang tersayangnya. Lebih parah dari semuanya, seseorang itu terkenal amat sangat menyayangi putra-putrinya. Ia yang membenci dunia, ternyata sangat mencintai anak-anak yang dilahirkan oleh yang tersayangnya. Dirinya punya cara berbeda dari semua manusia seantero jagat ini dalam mencintai. Juga, dirinya punya banyak kekesalan yang perlu dilepaskan dan kuping yang harus mendengarkan, tentu siapa lagi selain si sayangnya.
"Dibandingkan dirimu, aku lebih punya banyak pengalaman dalam hidup ini. Kau hanya anak bocah yang terlahir di dunia yang keras" itu katanya saat aku berusaha untuk membalas dari sekian banyak makian. Kupingku panas, air mataku tak lagi bisa kutahan. Siapapun orang yang melihatku malam itu, pasti akan mengasihani. "Anak lelaki tidak boleh menangis, dunia akan semakin pahit ketika kamu menangis" lanjutnya dengan masih mengepul.
Lalu, pertanyaanku tentang "hidup ini" kembali bertambah pada malam itu. Ketika dunia keras, dunia pahit, dunia sakit, tapi mengapa aku lahir. Maksudku, mengapa aku tetap dilahirkan. Mengapa tidak dia biarkan aku mati sebelum lahir saja. Dunia ini tidak sekeras, sepahit, dan sesakit yang dia bilang. Ia yang begitu padaku. Dibandingkan dunia, aku lebih takut padanya. Aku lebih takut kumpulan kunci yang seolah-olah lebih akrab dibandingkan sofa dan televisi di tengah rumah. Aku lebih takut berada di rumah dibandingkan datang ke rumah hantu.
Namun, mau bagaimanapun keluargaku akan tetap yang kusayang satu-satunya. Aku tidak lagi bermimpi untuk memiliki keluarga lain seperti permainan masa lalu "kau ibu, aku ayah, lalu anak kita empat". Bukankah akan menakutkan ketika kau selalu melukai seseorang yang kausayang. Aku mungkin akan menjadi sosok ayah yang menakutkan untuk darah dagingku sendiri. Memikirkan tentang aku yang hanya akan menjadi ayah mengecewakan untuk anakku, membuatku tidak lagi berpikir untuk mempunyai anak.
Tidak, lebih baik aku menua dengan tanpa menyakiti siapapun.
Ia berhenti pada kalimat terakhir yang menyakitkan itu.
"Kau lega?" - "maksudku, apa yang kaurasakan setelah bercerita?" ia mengangguk setelah kutanya begitu.
"Tentu saja, aku selalu lega setelah membaginya bersamamu" ia berhenti, seakan berusaha mencari kalimat yang tepat untuk diucapkan. "Maaf kali ini cerita yang kubawa begini-begini saja. Ah, maksudku … maaf ceritanya selalu begini"
"Apa itu sakit?" anak ini penuh luka. Lukanya mengering dan menjalar menjadi aliran darah.
Apakah boleh aku memeluknya?
Bandung, 09/07/2023. || dipeluk 23°C. || ditemani lagu So Life Goes On - Heo Hoy Kyung.
Wattpad : ibuk,bebek

Komentar
Posting Komentar