Langsung ke konten utama

Tempat Duduk Kita Nanti : Jatuh hati ada mimpi buruknya juga

 

Tempat Duduk Kita Nanti : Jatuh hati ada mimpi buruknya juga


        Perasaan yang anak itu miliki kali ini terasa sedikit manis dan malu-malu. Apakah Senjanu sedang jatuh cinta? Apakah itu artinya aku akan mendengarkan topik yang berbeda dari anak itu? Mengapa Senjanu cepat sekali menemukan perasaan yang ini. Ah, mungkin sebaiknya aku bersiap dari yang terburuk, patah hatinya.


Manusia dapat merasakan jatuh cinta dan mau bagaimanapun Senjanu adalah salah-satunya. Selama hidup, aku tidak pernah jatuh cinta. Bagiku, kasih sayang bapak sudah cukup mengisi apa-apa yang kurang dalam diriku. Teman-temanku berkata bahwa jatuh cinta itu seru. Mereka melupakan satu fakta penting, jatuh cinta ada mimpi buruknya juga. 


Tahun waktu itu, Senjanu berusia 14 tahun. Menurutku, sudah sedikit cukup dalam memberi dan menerima perasaan lebih terhadap yang ia sayang. Tentu saja, pada tahun yang sama, aku memulai petualangan baru, yakni mencari jawaban tentang apa itu cinta, terutama bagaimana cara patah hati menamatkan semuanya. Ketika beristirahat di ranjang ternyamanku, setelah bangun dari mimpi indahku, saat makan camilan favorit dan juga kerap bersemayam berjam-jam di perpustakaan pusat Jagat hanya untuk membaca dan mencari informasi tentang bagaimana rasanya jatuh cinta dan apa itu patah hati. Jawaban mengenai pertanyaan-pertanyaan yang selama ini aku cari hanya satu, ternyata “cinta itu rumit”.


Usiaku waktu itu 18 tahun. Itu artinya baru setahun Jagat ini mempercayakan anak manusia padaku. Tentu masih minim pengetahuanku tentang manusia. Banyak rasa dari perasaan yang belum pernah aku sentuh sebelumnya. Tidak dapat dipungkiri bahwa lumayan banyak yang membuatku tidak nyaman saat bersinggungan dengan rasa asing itu. Ini bukan salah satunya, tetapi akhir-akhir ini perasaan yang Senjanu berikan padaku cukup menarik. Aku bisa merasakan getaran saat Senjanu mengimbangi langkah kaki yang tersayang, pun ikut meringis ketika yang ia sayang tidak memedulikannya. Haha. “Apakah mencintai memang selalu seperti itu?” Ini adalah pertanyaan kesekian dariku selama merangkai kamus mencintai ini. 


“Kenapa kau tetap memberi hadiah untuk dia? Bukankah dia tidak menyukaimu sejak awal?” Lagi-lagi pantai dan lautnya adalah saksi berisik yang menemani kami berdua. Menyenangkan berada di pantai pada pukul Empat sore. Senja alasannya.


“Apakah pengorbananku selama ini sia-sia?” Senjanu menangis, dan payahnya tangisku lebih kencang darinya. 


Tepatnya tanggal 5, itu adalah hari ulang tahun orang yang Senjanu sayangi. Hadiah yang anak itu siapkan pada tanggal 4 ada dua, keduanya sama penting dan tidak mahal. Empat buah cupcake dan satu kutip kalimat. Aku bisa merasakan Senjanu tengah merasa keren dengan rencananya. Sama denganku. Tidak tahu mengapa, tetapi aku ikut merasa bangga pada anak itu dan merasa semua akan berjalan sesuai dengan dugaan kami berdua.


Namun salah, si kesayangannya menolak. Terdengar sepele, tetapi bukankah semua itu kali pertama untuk Senjanu. Termasuk diriku … ini hal baru untukku. Rasa yang Senjanu berikan cukup membuatku sesak dan kelimpungan — aku sungguh tidak suka dengan rasa baru yang itu


Semua yang Senjanu lewati untuk pertama kalinya dalam mencintai, tentu saja merupakan hal baru untukku. Pada akhirnya … tepat seperti maknanya, orang yang anak itu sayangi benar-benar menjadi “angin” yang tidak pernah bisa terengkuh. Di usianya waktu itu, si Angin adalah cinta pertama sekaligus patah hati pertamanya.


Senjanu tertawa, “kenapa kau ikut menangis”.


Bagaimanapun aku ikut merasakan sakitnya saat itu. Meskipun sudah sangat usang kisahnya, tetapi sesaknya masih tersisa. Mengapa anak itu masih bertanya alasan aku menangis. 


Kupegang dadaku sembari berkata “Hatiku perih” ia sedikit menurunkan tanganku, “Dasar bodoh, di sini hati itu” 


Anak itu menghapus air mataku menggunakan tangannya yang. Banyak. Luka. 


“Tolong … tolong tidak usah melukai kembali tangan ini. Aku terluka melihat goresan itu ada di tanganmu, anak nakal” Anak itu hanya diam seakan tidak mendengar permintaanku yang tidak sekali-dua kali ini.


Lagi dan lagi aku kembali kalah (mengalah) dan anak itu kembali menang pada permintaanku yang ini. “Hari sudah sore, biar aku antar pulang” ia hanya mengangguk. 


Sepanjang perjalanan aku dan Senjanu membisu, membiarkan pikiran membuncah di dalam kepala masing-masing. 


“Bukankah aku tidak bisa pulang dari Jagat ini ketika aku tidak bahagia?” anak itu menghentikan langkahnya


“Apa kau tidak bahagia?” anak itu menggeleng lemah, kemudian berjongkok memainkan bebatuan yang ada di jalan.


“Aku bahagia, di sini. Tidak tahu kalau sudah di rumah.” dia menghela nafas beratnya “Akhir-akhir ini ‘rumah’ kembali menjadi rumit. Aku takut untuk kembali dan menyapa hal yang tidak aku sukai.” aku tidak suka ini, sabitnya hilang sepersekian detik kata “rumit” itu kudengar.


“Andaikan aku bisa ikut bersamamu ke dunia itu” — “kau tidak boleh, di duniaku banyak penjahat, enak di sini. Semua baik padaku, tidak ada yang melukai hatiku. Saat di sini juga, aku bahagia” ujarannya itu semakin membuat aku penasaran dengan seperti apa dunianya Senjanu. Separah apa itu.


“Aku penasaran dengan dunia yang sudah melahirkanmu. Akan aku marahi siapapun yang berani-beraninya membuat temanku terluka.”


Anak itu hanya bisa terkekeh, “Kayaknya kalau aku kabur buat semalam gak apa-apa, deh … Bisakah kau menemani kesedihanku ini lebih lama?” 


Tidak ada raut candaan dalam dirinya saat memintaku mengabulkan satu permintaan itu. Apa ia serius? Apa ini akan aman? Apa dengan begini dia akan bahagia? Apakah aku terlalu banyak berpikir. “Baik … ayo, malam ini kita ke bukit Arunika, kita akan menunggu sampai matahari terbit dan setelah itu aku antar kembali”. 


“Pegang tanganku, kau mungkin akan tersesat” anak itu menggenggam tanganku dan berjalan ke arah yang berlawanan dengan arah jembatan yang dimewahi pohon-pohon berwarna biru. “Hey, adik kecil, bukankah ini Jagatku. Lalu apa kau tau dimana letak bukit Arunika berada?”


“Kalau kau lupa, aku ini adalah anak istimewa, aku bisa tahu dimana letak Arunika berada meski dengan menutup mata.” Bagaimana bisa aku melupakan fakta bahwa Senjanu adalah anak istimewa, sedangkan ia yang paling beda diantara manusia lain yang sedang “pulang” ke jagat ini. Ia adalah mawar di antara banyaknya ilalang yang tumbuh.


Tidak lama, salah satu dari dua orang berpegangan tangan itu tergelincir …


“Maaf aku lupa pakai kaca mata, dan ini sudah terlalu sore untuk penglihatanku yang sedikit kacau” 


Benar, yang jatuh adalah Senjanu. 


Payah.




“Pengorbananmu dalam mencintai tidak pernah sia-sia”. Kini aku dan Senjanu sudah berada di bukit Arunika. Kami duduk bersampingan di sebuah bangku cafe yang ada di bukit Arunika yang mengarah langsung ke pemandangan jalanan yang sedang ramai dan hamparan lautan di Jagat ini. Senjanu memesan teh hijau pahit, sedangkan aku memesan kopi susu dan biskuit keju kesukaan Senjanu. 


“Tapi tidak ada yang pernah membalas perasaanku” bukan sedih, dia mengucapkannya dengan tawa yang sedikit miris.


“Mereka hanya tidak bisa, Nu” selama delapan tahun aku berteman dengan Senjanu, aku paham dengan keadaannya yang malah semakin membuatku cemas padanya. 


“Mereka hanya tidak mau menyakitimu”

“dan kaupikir dengan begitu mereka tidak menyakitkan bagiku?” — “Siapa yang menyakiti dirinya sampai dia benar-benar menyakitkan untukku.”


Benar, mereka bahkan membuatku tidak bisa keluar kamar berhari-hari karena rasa yang Senjanu berikan padaku sangat menyakitkan. Kecewanya bersarang dalam dirinya bermalam-malam. Yang terakhir begitu menyakitkan dan aku masih bisa merasakannya sampai saat ini, meski aku tahu Senjanu berusaha keras menghilangkan perasaannya yang terakhir. Pun, kami sudah berjanji tidak akan bercerita tentang “manusia” satu itu, apapun yang terjadi padanya. “Ia terlalu abu-abu untuk sebuah warna yang menarik” itu kata Senjanu.


“Entahlah, tapi aku muak untuk mencintai. Kupikir aku serius dengan perkataanku kemarin lusa”


Aku ingat. Hatiku kembali mencelos. “Tidak, kau tidak boleh begitu”


“Nu, kau hanya perlu rehat untuk mencintai. Kau tidak perlu berpikir selamanya bahwa kau tidak akan mendapatkan kasih sayang itu. Kau tahu, semua manusia di Dunia mu berhak untuk mencintai… dan dicintai.”


“Kau benar, sebaiknya aku rehat saja. Mungkin hingga pada batas waktu yang tidak aku ketahui lamanya. Bisa juga selamanya”


Kesedihan Senjanu tentang romansanya memang rumit dan sedikit membuatku pening. Aroma yang ia keluarkan setiap kali mengungkit hal ini sungguh membuatku tidak karuan dan hampa.


“Ah, sudahlah. Ada masalah lain yang lebih menghantui dan menunggu di rumah saat aku pulang” air mukanya berubah semakin masam. Apa itu? Apa yang sudah menunggunya di rumah? Monster apa itu?


“Mimpi, kali ini tentang cita-citaku. Tentang masa depan.”


Kupikir romansanya paling rumit dari petualangan ini. Aku lupa kalau yang ini lebih membingungkan.




- 2023

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tempat Duduk Kita Nanti - Bagian Kelima dari satu sampai empat yang hilang

Tempat Duduk Kita Nanti : Kita hanya perlu punya satu hobi yang sama Dalam kamus kehidupanku, memiliki hobi dengan teman hidup adalah perlu. Lalu ketika hobi yang kusayang berlainan arah denganku, maka aku menyerah. Kemudian, pernyataanku barusan berbalik menjadi pertanyaan yang menuntut segera terjawab.  “Ibu bapakmu saja tidak punya hobi yang sama dan mereka bersama sampai sekarang”  Sebanyak lilin yang sudah aku tiup, selama itu juga aku memakan masakan yang dihidangkan keduanya. Asin-manis-pahit-panas-pedas. Jika hobi tidak sepenting itu, mengapa aku muak dengan pertengkaran yang tidak sekali dua tiga kali ini terjadi. Jika itu hanya sekadar perbedaan hobi, kenapa semuanya runyam ketika bertolak belakang.  “Mengalah tentang hobi bukan sesuatu hal mudah”  Itu ibu yang bilang. Semuanya baik-baik saja sampai keadaan nyaris begitu hancur ketika satu waktu hobi keduanya berlainan. Menyeramkan. Aku tidak suka melihat dan mendengar keributan. Malam itu semua orang menan...

Tempat Duduk Kita Nanti - Bagian keenam setelah lima lainnya

Tempat Duduk Kita Nanti : Keluarga yang Senjanu miliki serupa bunga Senduro . Sekali-dua-tiga-empat dan lebih kali, aku dapat merasakan anak itu tengah berada tepat menggantung di ujung jurang dengan belati yang menyelamatkannya. Itu pasti menyakitkan, tapi aku tahu … dia masih ingin hidup. Aku bisa merasakan anak itu sedang tidak sadarkan diri, tapi suara itu masih menggema, semakin keras dan tak tertahan luapannya. Ucapannya bukan untuk menusuk hatiku, tapi sakit sekali saat suara itu berasal dari seseorang yang anak itu kenal semenjak tawa-tangis pertamanya. Kata-kata seringkali menjelma menjadi sosok paling menyeramkan mengalahkan hewan buas ataupun sosok terlihat lainnya. Lukanya tersembunyi dan tidak ada obat yang dapat menyembuhkan luka yang tidak bisa disentuh. Melihat anak itu sudah andal dalam menggantung pada jurang dan melihat bagaimana dirinya mengikatkan tanganya pada belati tersebut. Apakah anak itu sudah terbiasa? Entah sudah berapa banyak kesempatan menyerah yang anak ...