Menelan kegelapan bersama kedinginan
Apakah aku bisa memperlakukan diriku lebih keras untuk diriku sendiri dan masa depannya.
Salju pertama sudah turun, lalu apakah air mata ini bisa berhenti mengalir.
Berjalan ke arah depan untuk sampai, meski rintangannya terus mengikuti dari segala arah.
Bahkan saat panah yang bercahaya itu mulai menembus, apakah aku bisa untuk tidak takut.
Mempertaruhkan segalanya hanya untuk menyelesaikan satu permainan di satu malam purnama.
Sebelum aku mendapatkannya permainan ini tidak akan menemukan akhirnya.
Meski hilang selamanya, berharap dunia selanjutnya yang tiba tidak sedingin ini.
Begitu teriakan terdengar dan semua saraf bagian terkecil terbangun
Batu yang semula membeku … kini telah terbakar.
Dunia baru itu merentangkan tangannya, menarik tubuh yang dingin lalu membakarnya.
Apakah memang dunia selanjutnya akan segera datang saat pintu terbuka.
Lalu sedetik setelahnya, semua menghilang dalam Dunia yang Baru.
Komentar
Posting Komentar