Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Juli, 2023

Tempat Duduk Kita Nanti - Bagian kesatu yang bukan pertama

Tempat Duduk Kita Nanti : Jagatku hanya bisa dilihat oleh orang yang bertekad untuk bahagia Sudah tepat satu bulan aku tidak berjumpa sapa dengan Senjanu. Artinya sudah sebulan aku tidak menerima kesedihannya. Aku harap anak itu sedang tidak kenapa-napa di dunianya, kuharap dia tidak melupakan aku meski sedang tidak bersedih. Bukankah terlalu egois jika meminta waktu dan cerita bahagianya juga. Aku sudah merasa cukup adil dengan kehadiran dan kesedihannya. Kuharap dirinya baik-baik saja. Hampa. Ternyata ada satu ruang kosong dalam hatiku ketika anak itu tidak ada. Jiwaku yang terbiasa tidak punya teman, kini berteriak lantang meminta kehadirannya. Indra penciumku yang selalu terhibur oleh aroma makanan manis, kini secara arogan meminta aroma unik milik anak itu yang wanginya mirip seperti kopi Arabika dari Flores. Aku akan berteman lebih dekat dengan anak itu ketika dia mengunjungiku kembali. Harus. Kembali pada hari pertama aku bertemu dengan anak itu, anak yang baru aku ketahui na...

Tempat Duduk Kita Nanti - Bagian keenam setelah lima lainnya

Tempat Duduk Kita Nanti : Keluarga yang Senjanu miliki serupa bunga Senduro . Sekali-dua-tiga-empat dan lebih kali, aku dapat merasakan anak itu tengah berada tepat menggantung di ujung jurang dengan belati yang menyelamatkannya. Itu pasti menyakitkan, tapi aku tahu … dia masih ingin hidup. Aku bisa merasakan anak itu sedang tidak sadarkan diri, tapi suara itu masih menggema, semakin keras dan tak tertahan luapannya. Ucapannya bukan untuk menusuk hatiku, tapi sakit sekali saat suara itu berasal dari seseorang yang anak itu kenal semenjak tawa-tangis pertamanya. Kata-kata seringkali menjelma menjadi sosok paling menyeramkan mengalahkan hewan buas ataupun sosok terlihat lainnya. Lukanya tersembunyi dan tidak ada obat yang dapat menyembuhkan luka yang tidak bisa disentuh. Melihat anak itu sudah andal dalam menggantung pada jurang dan melihat bagaimana dirinya mengikatkan tanganya pada belati tersebut. Apakah anak itu sudah terbiasa? Entah sudah berapa banyak kesempatan menyerah yang anak ...

Tempat Duduk Kita Nanti - Bagian Kelima dari satu sampai empat yang hilang

Tempat Duduk Kita Nanti : Kita hanya perlu punya satu hobi yang sama Dalam kamus kehidupanku, memiliki hobi dengan teman hidup adalah perlu. Lalu ketika hobi yang kusayang berlainan arah denganku, maka aku menyerah. Kemudian, pernyataanku barusan berbalik menjadi pertanyaan yang menuntut segera terjawab.  “Ibu bapakmu saja tidak punya hobi yang sama dan mereka bersama sampai sekarang”  Sebanyak lilin yang sudah aku tiup, selama itu juga aku memakan masakan yang dihidangkan keduanya. Asin-manis-pahit-panas-pedas. Jika hobi tidak sepenting itu, mengapa aku muak dengan pertengkaran yang tidak sekali dua tiga kali ini terjadi. Jika itu hanya sekadar perbedaan hobi, kenapa semuanya runyam ketika bertolak belakang.  “Mengalah tentang hobi bukan sesuatu hal mudah”  Itu ibu yang bilang. Semuanya baik-baik saja sampai keadaan nyaris begitu hancur ketika satu waktu hobi keduanya berlainan. Menyeramkan. Aku tidak suka melihat dan mendengar keributan. Malam itu semua orang menan...